Translate

Rabu, 29 November 2023

COLOR DRIVING

 

CARA PENERIMA MEMPEROLEH WARNA YANG ASLI.
(Men -
dekoda warna).
Untuk mengemudikan tabung gambar diperlukan sinyal2 M, H dan B. tetapi stasiun-pemancar mengirimkan hanya sinyal2 Y, U dan V.
Bagaimanakah cara penerima TV memperoleh sinyal2-warna M, H dan B dengan menjabarkannya dari Y, U dan V, itu bergantung kepada cara2 pengemudian tabung gambarnya (CRT).
Cara2 pengemudian tabung gambar adalah:
(1) pengemudian selisih warna;
(2) pengemudian MHB.

 M = R = Red

H = G = Green

B = B = Blue

A. PENGEMUDIAN SELISIH-WARNA
Azas pengemudian ini diperlihatkan di Gambar.6: ketiga  katoda disatukan dan diumpani
sinyal minus Y. Kepada kisi2 kemudi diumpankan sinyal2 selisih warna (M - Y), (H - Y) dan (B - Y).
Maka tegangan2 kemudi yang ada pada senapan2 elektron menjadilah M, H dan B, sebab sinyal
-Y yang ada di kisi dan yang ada di katoda saling meniadakan. Jadi:
Tegangan kisi – tegangan katoda =

 

M - Y - (- Y) = M
H - Y - (-Y)   = H
B - Y - (-Y)   = B


Cara memperoleh sinyal2 selisih warna (M - Y), (H - Y) dan (B - Y) keluar dari sinyal2 Y, U
dan V, adalah dengan menerapkan sebuah rangkaian matriks seperti yang dikemukakan di
Gambar. Bab sebelumnya.
Lihat Gambar. sebelumnya: Penguatan yang dikenakan kepada sinyal U, dan kepada sinyal V, berbandingan.sebagai:

 1/0,493 : 1/0,877 = 2 : 1,2


 


Gambar.6: Pengemudian tabung gambar dengan sinyal selisih warna dan juga dengan sinyal cerah (sinyal luminasi Y).

 


Gambar.7: Cara membentuk sinyal (H-Y) dalam penerima.

Dengan cara itu penurunan (reduksi) penguatan yang telah dilakukan di pemancar terhadap sinyal2 tersebut, dipulihkan kembali, sehingga kuat sinyal (M-Y) dan (B-Y) menjadi penuh lagi.


CONTOH: Mari kita analisa bagaimanakah cara menemukan kembali sinyal (H-Y).


(a) Sinyal (M-Y) diumpankan kepada penguat yang penguatannya ada G = 0,51X.

Penguat pun memutar fasanya sinyal ini (180°).


(b) Sinyal (B-Y) diumpankan kepada penguat dengan penguatan G = 0,19 X. Penguat ini
juga memutar fasa.


(c) Kalau sinyal2 keluaran dari (a) dan dari (b) dijumlahkan, maka diperolehlah sinyal (H-Y)
Kejadian di atas dapat dengan mudah kita lihat sebagai berikut:


Jikalau harga Y dari persamaan 1b kita kenakan kepada (M-Y) dan kepada (B-Y), maka
kita dapatkan:


(M-Y) = 0,7.M – 0,59.H - 0,11.B    (3).
(B-Y) = 0,89.B - 0.59.H - 0,3.M     (4).

Di jalan keluarnya rangkaian-matriks terdapat -0,51(M-Y) - 0,19(B-Y).
Nilai bagi (M-Y) ini kita substitusikan dalam persamaan (3) dan (4); maka di jalankeluar matriks terdapatlah:
0,51 (0,7M - 0,59H - 0,11B) - 0,19 (0,89B - 0.59H - 0,3M)

= 0,41H - 0,3M - 0,11B


Jikalau 0,41H kita tulis sebagai (H - 0,59H), maka sinyal-keluaran matriks adalah:
(H - 0.59H) - 0,3M - 0,11B

= H - (0,59H - 0,3M - 0,11B)
= H - Y
Dengan demikian nyata, bahwa sinyal-keluaran dari matriks adalah (H-Y).


B. PENGEMUDIAN MHB (RGB steering)
Dapat juga diterapkan apa yang dinamai pengemudian MHB. Dalam hal ini kepada
katoda2 tabung gambar diumpankan sinyal -M, -H dan -B, sedangkan kisi diberi tegangan-rata, dan tidak diberi sinyal, lihat Gambar.8.

 


Gambar.8: Pengemudian MHB.

Disini yang melakukan pen-dekoda-an bukanlah tabung gambar, melainkan suatu rangkaian yang ada di depannya tabung gambar yaitu rangkaian Matriks.

Rabu, 22 November 2023

SINYAL LUMINANSI Y

 

3. S1NYAL-Y.

Agar sinyal-warna dapat ditampilkan oleh penerima-TV monokrom (sebagai hitam-putih),

maka pemancar TV-warna perlu memancarkan sinyal-luminansi (sinyal kecerahan). Sinyal

luminansi dinyatakan dengan Y; tegangan dari sinyal ini kita nyatakan saja dengan VY.

Sinyal ini dapat diperoleh dengan jalan menjumlahkan ke-tiga2 sinyal-warna -merah, hijau, biru- secara yang dikemukakan dalam Gambar.3.

Jadi tegangan sinyal-luminansi VY ada setinggi:

 

VY = 0.3.VM + 0,59 VH + 0,11.VB               ( 1a )

Lazimnya persamaan itu ditulis sebagai:

 

Y = 0,3.M + 0,59.H + 0,11.B                         ( 1b )

 

 


GAMBAR 3

KESIMPULAN:    Jikalau tegangan yang dihasilkan oleh kamera merah dikalikan de

ngan 0,3; tegangan yang dihasilkan oleh kamera hijau dikalikan dengan

0,59; tegangan yang dihasilkan kamera biru dikalikan 0,11; kemudian ke-tiga2 hasilkali itu dijumlahkan, maka penerima TV-hitam-putih akan menampilkan gambar yang berpadanan dengan

kecerahan gambar yang ada di stasion-pemancar.

 

CONTOH 1: Diketahui: Di stasion-pemancar ada adegan yang -ditatap dari kiri ke kanan- terdiri dari jalur2 hijau, merah dan biru, Gambar 4.

Kamera2 mengeluarkan tegangan 1 Volt, apabila ia melihat warna.

Ditanyakan: bagaimanakah tingkahnya sinyal-luminansi selama pekerjaan penelusuran?

Jawab: Tegangan2 yang dikeluarkan kamera adalah sebagai berikut:

 

TABEL

 
Jikalau hasil tabel di atas kita lukiskan dalam grafik, maka diperolehlah Gambar 4.

 


GAMBAR 4

Gambar 4: Jalur jalur warna dan padanan bentuk-2 tegangannya yang berlaku dalam CONTOH 1, diatas.

 

CONTOH 2: Diketahui: - Selama penelusuran di stasiun-pemancar dijumpai bidang putih. Kamera mengeluarkan tegangan minimum 1 Volt.

Ditanyakan: Tegangan sinyal-luminansi.

 

Jawab: Putih terdiri dari merah, hijau dan biru dalam jumlah yang seimbang.

Karena itu ketiga-tiga kamera akan secara total mengeluarkan tegangan 1 Volt. Karena itu tegangan sinyal-luminansi ada:

VY = 0,3.M + 0,59.H + 0,11.B

      = 0,3 + 0,59 + 0,11

      = 1 Volt.

CATATAN: Sinyal-Y dimodulasikan kepada sinyal-pembawa-gambar dengan cara seperti yang dilakukan pada sistem-TV-hitam-putih.

 

4. SINYAL SELISIH-WARNA

(Color-difference signal )

Senapan-elektron di dalam tabung gambar-warna perlu dikemudikan dengan tegangan2

yang berasal dari kamera merah, kamera hijau dan kamera biru. Kalau tidak demikian, maka tidaklah akan tampil gambar warna yang warnanya sama dengan adegan yang ada di stasion-pemancar.

Jadi sinyal2 kemudi yang diperlukan oleh tabung gambar-warna adalah M, H dan B.

Jikalau sekiranya di stasiun-pemancar dilakukan pemodulasian dengan M, H dan B, maka

dalam penerima pun sesudah dideteksi akan terdapat pula M, H dan B. Sinyal2 M, H dan

B ini akan dapat mengemudikan senapan2 elektron.

Namun pemancar TV warna juga memancarkan sinyal Y (guna keperluan penerima TV monokrom). Karena itu cukuplah sekarang hanya ada 2 sinyal-warna lagi saja yang perlu dipancarkan. Maka H tidaklah dipancarkan, sebab dari Y , M dan B yang diterima, si-penerima-TV-warna akan dapat menjabarkan sendiri akan H yang ada di pemancar. Jadi penerima-TV-warna

harus dapat menentukan (mereproduksi) H dengan jalan hitungan.

CONTOH: Penerima-TV menangkap informasi yang terdiri dari:

Y = 0,8V; M = 1V; B = 0,5V

Berapakah harga H?

Jawab: Dengan menerapkan persamaan (1b):

Y = 0,3M + 0,59H + 0,11B diketemukanlah:

0,8 = 0,3.1 + 0,59.H + 0,11 . 0,5.

 

Jadi: H = 0,76 Volt

M dan B tidak dipancarkan sebagai sinyal-M dan sinyal-B. Pemancar mengolah tegangan-tegangan-sinyal (M-Y) dan (B-Y). Sinyal2 inilah yang dimodulasikan pada gelombang-pembawa dan dipancarkan.

(M-Y) dinamai sinyal seiisih-merah;

(B-Y) dinamai sinyal selisih-biru.

Jadi penerima menerima sinyal2 Y, (M-Y) dan (B-Y). Dengan memanfaatkan sinyal2 itu

penerima harus dapat membentuk dan mereproduksi M, H dan B. Dalam pekerjaan pengolahan

ini terjangkitlah (H-Y). Sinyal ini dinamai sinyal seiisih-hijau.

 

5. CARA MEMBENTUK SINYAL2 SELISIH WARNA DALAM PEMANCAR

Sudah dikemukakan dalam Paragraf di atas, bahwa pemancar memancarkan sinyal2 Y, (B-Y)

dan (M-Y). Namun sinyal2 (B-Y) dan (M -Y) dipancarkan setelah terlebih dulu dilemahkan. Pelemahan ini bertujuan untuk menghindari pengemudian-lebih.

Sinyal (B-Y) yang sudah dilemahkan kita sebut saja sinyal-U; sinyal (M-Y) yang sudah dilemahkan kita namai sinyal-V. Berlakulah:

V = 0,877 (M-Y) ( 2a )

U = 0,493 (B-Y)  ( 2b )

Si penerima perlu mengembalikan sinyal2 V dan sinyal U tersebut pada taraf aslinya,

sebelum ditampakkan di layar gambar.

Gambar 5 mengemukakan azas cara2-nya membentuk sinyal-Y, U dan V dalam pemancar.

(a) Sinyal2 yang dihasilkan kamera2 diumpankan kepada suatu rangkaian matriks.

(b) Dalam matriks itu sinyal-Y dibentuk untuk memenuhi persamaan Y=0,3M+0,59H+0,11B

dengan cara seperti yang dikemukakan dalam Gambar 3.

(c) Sinyal-Y juga diumpankan kepada sebuah pemutar-fasa, sehingga diperoleh -Y.

(d) Sinyal -Y diumpankan kepada 2 rangkaian-jumlah.

 


GAMBAR 5

Gambar 5: Cara membentuk sinyal Y, U dan V dalam pemancar.

Satu rangkaian-jumlah dimasuki M dan -Y; hasilnya (M -Y). Rangkaian-jumlah yang lain dimasuki -Y dan B; hasilnya (B-Y).

(e) Sinyal2 (M-Y) tlan (B-Y) dimasukkan ke pelemah. Hasilnya: V = 0,877 (M-Y) dan

U =0,493 ( B-Y).

CONTOH (1): Diketahui: Kamera2 pemancar menghasilkan tegangan2 berikut:

M = 1V; H = 0,7V; B = 0,2V.

Ditanyakan: Kuat-sinyal Y, U dan V.

Jawab: Y = 0,3M + 0,59H + 0,11B

                = 0,3.1V + 0,59.0,7V + 0,11.0,2V = 0,725 Volt.

U = 0,493 (B- Y)

   = 0,493 (0,2 - 0,725) = -0,259 Volt.

V = 0,877 (M- Y)

    = 0,877 (1 - 0,725) = 0,241 Volt.

(2) Diketabui: Kamera2 dalam pemancar sedang menelusuri kuning jenuh.

Kamera2 dapat mengeluarkan tegangan2 maksimum 1 Volt.

Ditanyakan: Sinyal Y, U dan V yang dipancarkan.

Jawab: Kuning jenuh dibentuk oleh hijau jenuh dan merah jenuh. Jadi kamera2 mengeluarkan:

M = 1V; H = 1V; B = 0V.

Y = 0,3M + 0,59H + 0,11B = 0,89 Volt.

V = 0,877 (M-Y) = 0,0965 Volt.

U = 0,493 (B-Y) = -0,439 Volt.

 

 

Rabu, 15 November 2023

SINYAL TV WARNA

SINYAL TV WARNA.


1. PENDAHULUAN.
(a). PemancarTV warna harus juga memancarkan sinyal  yang akan dapat ditangkap dan direproduksi oleh penerima TV warna maupun penerima TV monokrom (hitam-putih).
(b). Penerima TV warna harus dapat menampakkan gambar yang dipancarkan dari stasiun pemancar TV warna maupun pemancar TV hitam putih.
(c). Penerima TV hitam putih harus dapat menampilkan gambar yang dipancarkan dari stasiun pemancar TV hitam putih maupun pemancar TV warna.
Hal-hal di atas dimungkinkan dengan diterapkannya sistem komptabilitas yang dalam
tahun l953 mulai.diterapkan di Amerika Serikat, yaitu sistem NTSC (National Television System Committee),
Di lndonesia diterapkan sistem PAL (Phase Alternating Line),yaitu suatu perbaikan dari sistem NTSC.
Bahan yang dikemukakan dalam Paragrap berikutnya adalah berdasarkan sistem pAL, namun
berisi pula dasar dasar sistem NTSC.
Pemancar TV warna memancarkan sinyal sinyal:
(a) bunyi.
(b) luminansi (kecerahan gambar).
(c) warna (krominansi).
(d) pulsa untuk sinkronisasi vertikal (sinkronisasi raster), dan pulsa untuk sinkronisasi horisontal (sinkronisasi garis).
(e) ledakan (salvo, atau burst signal).
Penerima hitam-putih adalah yang disebut (b), yaitu sinyal luminansi. Yang menampilkan gambar hitam-putih, berkat adanya sinyal lnformasi maka warna dimodulasikan pada gelombang pembawa warna dengan frekwensi 4,43 MHz. Pada dasarnya penerima TV warna hanya memerlukan sinyal ini guna menampilkan gambar gambar warna.
Bunyi dimodulasikan secara FM pada gelombang pembawa anakan (subcarrier) dengan frekwensi 5,5 MHz.


V.2. SISTEM TV WARNA SEDERHANA.
Pada dasarnya, sistem TV-warna akan dapat di-ujudkan dengan cara berikut:


A. DI STASIUN PEMANCAR.
Ada 3 kamera. Kamera kamera ini menangkap obyek obyek seperti kamera kamera yang dipakai dalam sistem-TV monokrom.

 


Gambar. 1: Azas pemancaran warna.


Setiap kamera dilengkapi tapis / filter warna agar:
satu kamera membangkitkan hanya tegangan tegangan sinyal yang bereaksi pada warna merah,
satu kamera membangkitkan hanya tegangan tegangan sinyal yang bereaksi pada warna hiiau,
satu kamera membangkitkan hanya tegangan tegangan sinyal yang bereaksi pada warna biru,
lihat Gambar. 1.


Dengan cara tersebut, gambar yang hendak dipancarkan kita uraikan menjadi 3 warna primer. Setiap warna dimodulasikan pada gelombang-pembawa sendiri sendiri, kemudian dipancarkan.
Jadi kita menggunakan 3 pemancar. Yaitu  pemancar M menempati kanal Merah (spektrum frekwensi) nomer 2. pemancar H menempati kanal Hijau nomer 3. dan pemancar B menempati kanal biru nomer 4.


B. DI TEMPAT PENERIMA
Ketika gelombang pembawa ditangkap, dan dikuatkan, dalam penerima yang saling terpisah, kemudian dideteksi, lihat Gambar. 2. Sinyal sinyal itu (disebut sinyal video) diumpankan kepada tapis / filter warna, sehingga tampillah warna warna merah, hijau, dan biru.

 


 Gambar. 2: Azas Penerima Televisi warna (Color Television Receiver) sederhana.

Penerima sedang menerima sinyal yang terpancar dari pemancar di Gambar.1.

Gambar gambar itu diitampilkan secara saling berhimpitan, sehingga mata kita pun tidaklah mengindera
warna warna merah, hijau dan biru tersebut secara terpisah pisah, melainkan secara menyeluruh. Jadi apa yang tampak di layar gambar adalah warna warna senyatanya yang ada di stasiun Pemancar Televisi.

Rabu, 08 November 2023

WARNA CAHAYA

 

1. WARNA CAHAYA

Guna memahami tehnik televisi warna, kita perlu mengetahui sedikit tentang warna.


1.1. CAHAYA PUTIH
Cahaya yang tampak mata
(yaitu cahaya putih) adalah sebenarnya gelombang-gelombang elektromagnet dengan frekwensi setinggi kira-kira 3x108 MHz. Atau  dengan panjang gelombang kira-kira 104 uM
cahaya ini menempati jalur yang sangat sempit saja di dalam spektrum-frekwensi gelombang-gelombang elektromagnet.
Ternyata, bahwa cahaya putih dapat diuraikan ke dalam warna-warna yang terdapat di daram pelangi, yaitu: merah, jingga, kuning, hijau, biru dan ungu. penguraian ini dapat dirakukan secara berikut:

cahaya (dari matahari) dimasukkan rewat celah yang sempit ke ruang gerap. Dibelakang celah ini ditaruh prisma. Di berakang prisma direntangkan layar putih. Maka cahaya yang masuk lewat celah itu diuraikan menjadi warna-warni  oleh prisma, dan ditampakkan di layar. setiap warna dari spektrum-warna adalah suatu gelombang erektro--magnet dengan panjang-gelombang tertentu. Merah mempunyai panjang-geiombang 700.10-6 mM, (= 700 nano meter, nm); ungu mempunyai panjang'gerombang 400.10-6 mm (= 4oo nano meter, nm). Lihat gambar 1.

 


Gambar 1.1. Cahaya putih dapat diuraikan dalam warna-warna yang berada dalam suatu spektrum-warna yang kontinu, mulai dari merah
hingga ungu.

 

1.2. MEMPEROLEH PUTIH DARI MERAH, HIJAU DAN BIRU.
Dengan menyampur-nyampurkan merah (M), hijau (H) dan biru (B) akan dapat kita peroleh berbagai warna-warni. (Penyampuran itu harus dengan cara penambahan (additive), yaitu: seakan-akan warna-warna itu ditumpangkan pada selaput-mata kita).
Karena itu merah, hijau dan biru dinamai warna-warna primer.

 


Gambar.1.2: Warna-warna apakah yang diperoleh apabila merah (M), hijau (H) dan biru (B) saling ditambahkan.

Lihat Gb.1.2: Wama-warna itu adalah hasil percobaan yang dilakukan dalam ruang gelap. Pada
layar putih kita jatuhkan cahaya-cahaya merah, hijau dan biru. Dalam bidang dimana merah, hijau
dan biru saling berlimpah terjangkitlah putih. Kejadian ini dapat kita tuliskan dalam rumus:
M + H + B = putih ( 1 )
merah + hijau + biru = putih
Bidang-bidang yang terkena hanya 2 jenis warna menampakkan sesuatu warna yang berlainan
kali dari warna aslinya. Kita lihat dalam Gambar.1.2 itu, bahwa:


M + H = kuning
merah + hijau = kuning


M + B = lembayung (magenta)
merah + biru = lembayung ( 2 )


B + H = biru-hijau (cyan)
biru + hijau= biru-hijau


1-3. WARNA-WARNA KOMPLEMEN
Di bawah ini adalah contoh-contoh bagaimanakah kita akan dapat memperoleh sesuatu warna
dengan jalan menambah-nambahkan merah (M), hijau (H) dan biru (B):
Persamaan (1) kita tulis sebagai:


B + (M + H) = putih (1)

Menurut persamaan (2):

(M + H) = kuning (2)

Jadi:

B + (M + H) -= B + kuning = putih

 

KESIMPULAN 1

Guna memperoleh putih dari biru, kita perlu menambahkan kuning kepada biru, atau:

Kuning merupakan suatu tambahan bagi biru guna memperoleh putih.
Karena itu kuning kita sebut warna komplemennya biru. (komplemen = tambahan).

Warna biru-hijau (cyan) menandakan tak-adanya merah.
Lembayung menandakan tak-adanya hijau.
Kuning menandakan tak-adanya biru.

CONTOH2 lain: H + lembayung = putih
M + biru-hijau = putih
Jadi: Biru-hijau (cyan) adalah warna komplemen-nya merah.


KESIMPULAN 2: (Lihat juga Gambar.1.2).

Kalau salah satu warna primer (yaitu merah, hijau atau biru) tak-ada, maka yang tampak adalah warna-komplemen.


RINGKASAN
1. Merah, hijau dan biru disebut warna2 ………………
warna itu akan dapat diperoleh ………………
merah+……+' hijau = putih;
sebab dengan mencampurkan ketiga jenis.
2. Merah + …….. = kuning
Merah + hijau = ………,
Merah + biru = ……….
Hijau + biru = …………….
3. Warna komplemen adalah warna yang perlu dicampurkan kepada satu warna primer guna
memperoleh …………………….
Kuning adalah warna komplemen-nya................... sebab kuning + biru = ……………….
Lembayung adalah warna komplemen-nya ………………… , sebab lembayung +……………… = putih.

 


4. Biru-hijau (cyan) tampak oleh penyampuran.... dan ……………..
Lembayung ( magenta) timbul oleh penyampuran.... dan ....

1.4. WARNA JENUH.
Jikalau merah dan hijau dengan intensitas-intensitas yang sama kita campur, maka terjadilah kuning (lihat Gb.1.2).
Jika intensitas merah secara berangsur kita kurangi, maka kuning berubah dengan berbagai warna menuju ke hijau.
Kalau sebaliknya: intensitas hijau yang secara berangsur kita kurangi, maka timbullah kuning yang berangsur menuju merah.
Apabila intensitas merah ada 3X intensitas hijau, maka kita peroleh jingga. Dalam bentuk rumus, kejadian ini dapat kita tuliskan sebagai:
3M + H = Jingga
Dengan cara seperti di atas kita akan dapat juga menyampurkan hijau dengan biru, merah dengan biru, untuk memperoleh setiap warna yang di-inginkan.
Warna yang diperoleh dengan menyampurkan 2 warna primer tidak mengandung putih. Warna yang tidak mengandung putih disebut warna jenuh.
Di alam tak terdapat warna jenuh.


1.5. WARNA TAK- ENUH.
Misalkan, bahwa ada sumber-cahaya merah; kita pun melihat merah. Kepada merah itu
kita tambahkan putih yang intensitasnya kian kita besarkan. Maka kita melihat, bahwa merahnya berangsur berubah, dari merah menuju ke merah-muda.
Dengan di-tambah2-kannya putih, maka merah tersebut berangsur jadi kurang jenuh.
Dari hal-ikhwal warna jenuh dan warna tak-jenuh tersebut, maka kita dapat menarik kesimpulan berikut:
Bila dengan menggunakan warna2 primer merah, hijau dan biru hendak memperoleh sesuatu warna tertentu, maka adalah 2 cara:
(a) Dengan menyampurkan 2 warna primer akan dapat diterbitkan sesuatu warna, atau:
(b) Kepada merah, hijau dan biru -dalam jumlah2 yang sama- ditambahkanlah putih sedemikian banyak, sampai idiperoleh derajat-jenuh yang di-inginkan.

CONTOH: Misalkan, bahwa di stasion-pemancar ada warna jingga tak-jenuh.
Jingga tak-jenuh ini boleh kita anggap terdiri dari: jingga jenuh dengan sejumlah putih. Dalam rumus:

 

Jingga tak-jenuh = Jingga jenuh + Putih  (a)

Jingga jenuh dapat diperoleh dengan menambahkan merah kepada hijau dalam perbandingan 3:1,

jadi: (3M + H) = Jingga jenuh (b)

Adapun putih dapat diperoleh dengan menyampurkan merah, hijau dan biru dengan intensitas-intensitas yang sama. Dalam rumus : p(M + H + B) = Putih (c)

p = takaran untuk derajat-jenuh. Kian besar p, kian putihlah cahayanya.
Jadi (dari persamaan2 di atas) jingga tak-jenuh dapat dinyatakan sebaga:
Jingga tak-jenuh = (3M + H) + p(M + H + B)
= (3 + p)M + (1 + p)H + p.B (d)

Kian besar p, maka kian banyak putih-lah yang dikandung jitigga; jadi kian tak-jenuh
jingga-nya.
Jikalau dimisalkan, bahwa derajat-jenuh ada sedemikian besar, hingga p=1, maka kita
perolehlah:
Jingga tak-jenuh = 4M + 2H + B (e)
Bagaimanakah sekarang penerima-TV kita harus mereproduksi jingga (dari persamaan e)
tersebut? Dalam pekerjaan pen-dekoda-an itu, penerima-TV akan dapat bekerja sebagai berikut:
(a) Sinyal yang dipancarkan dari pemancar mengandung M, H dan juga B. Ini berarti, bahwa
warna ybs adalah tak-jenuh. (Sebab: warna jenuh dibentuk oleh hanya 2 warna primer).
(b) Kalau dari sinyal tersebut (a) kita ambil putih-nya cukup banyak, hingga tertinggal 2
warna primer saja, maka kita pun tahu nada-warna apakah yang ada pada kita.
Maka pen-dekoda-an 4M + 2H + B yang terpancarkan dari pemancar itu akan dapat
berlangsung secara berikut:

 


Dengan cara seperti di atas kita sudah menemukan, bahwa 4M + 2H + B yaitu jinggatak-jenuh dapat diuraikan dalam jingga-jenuh + putih.

3M + H (= jingga jenuh)

 

RINGKASAN
1. Sesuatu warna akan kian jenuh, kalau warna itu kian kurang mengandung ………….
dua/tiga warna primer yang dicampurkan akan menghasilkan warna jenuh.
2. Dicampurkan dalam intensitas sama: cyan, lembayung, kuning. Warna apakah yang timbul?
(Uraikanlah warna2 komplemen ke dalam warna2 primer, lalu jumlahkan).
Mata kita tak-sama peka-nya terhadap berbagai warna; ia lebih peka terhadap kuning ketimbang terhadap biru ataupun merah.
Lihat Gb.1.3: - Ini adalah gambar lengkung kepekaan mata.
Untuk cahaya dengan panjang-gelombang kira-kira 600 nm (= kuning dan hijau) mata kita
adalah paling peka. Untuk cahaya dengan panjang-gelombang yang kian pendek, maupun untuk
cahaya dengan panjang-gelombang yang kian panjang, kepekaan mata kian berkurang. Kepekaan
untuk kuning ada kira2 5 sampai  6 kali kepekaan untuk biru. Kepekaan untuk merah ada kira-kira 2 sampai 3 kali kepekaan untuk biru. Untuk biru, mata adalah paling kurang peka.

 


Gb.1.3:' Tanggapan mata kita terhadap berbagai warna.
Mata adalah paling peka terhadap kuning.
Kalau kepekaan mata terhadap kuning kita anggap (=1,0),
maka kepekaan terhadap hijau ada kira2 0,9 (mendekati paling peka ) dan kepekaan terhadap merah kira2 0,3 (= 1/ 3 kali dari kepekaan terhadap kuning).

Dalam tehnik TV-hitam-putih, maka nuansa-nuansa (perubahan-perubahan) warna tersebut diubah menjadi nuansa-nuansa (perubahan-perubahan) hitam-putih. Karena kuning menjangkitkan nuansa yang paling terang, maka di layar-TV hitam-putih, warna kuning tampak sebagai bayangan yang paling cerah
(paling putih). Merah menjangkitkan nuansa yang kurang cerah, karena itu merah tampak sebagai putih keabu abuan. Biru membangkitkan nuansa cahaya yang paling lemah, karena itu di layar hitam-putih, warna biru tampak sebagai bayangan abu-abu gelap, Jadi intensitas bayangan di layar TV hitam-putih itu bervariasi sebanding dengan kesan kecerahan mata kita yang ditimbulkan oleh berbagai warna, lihat Gb.l.4.

 

Gambar 1.4. (A).

 

Gambar 1.4. (B).

Gambar.l.4:

(A) Balok warna yang tampak di layarTV-warna.

(B) Apa yang ditampilkan balok-warna tersebut di layar TV monokrom.

 

Pemancar TV warna memancarkan:

(1) Sinyal kecerahan tersebut di atas (yang kita namai pula sinyal luminansi (luminance signal);
(2) Sinyal informasi warna.

Jadi pemancar TV warna se-akan2 dapat kita anggap sebagai kombinasi pemancar-warna dan
pemancar hitam-putih.
Penerima TV hitam- putih akan mereproduksi sinyal tersebut (1) saja.

 

RINGKASAN
1. Mata kita adalah paling peka terhadap (merah/kuning/biru).

Terhadap............... mata paling kurang peka.

2. Kalau warna-warna (yang terpancarkan dari pemancar-TV-warna) direproduksi oleh penerima TV hitam -putih, maka kuning menjangkitkan bayangan (kurang/paling) putih di layar.

Kelabu yang paling gelap dijangkitkan oleh warna biru/merah.
3. Kesan kecerahan yang ditimbulkan oieh berbagai warna terhadap mata kita, dipancarkan
dari stasion-pemancar TV warna berupa sinyal ...............
Adapun warna dipancarkan sebagai sinyal ………………..
na dapat kita anggap sebagai kombinasi antara pemancar ……………...
Jadi pada dasarnya pemancar-TV-wardan pemancar ……………………….

 

 

Rabu, 11 Oktober 2023

SINYAL GAMBAR LAYAR DAN TEGANGANNYA DI OSCILOSCOPE

 SINYAL INFORMASI GAMBAR DILAYAR DAN SINYAL TEGANGANNYA DI OSCILOSCOPE

ENGLISH


BAHASA INDONESIA



Gambar 7.8. Sinyal video komposit dan informasi gambarnya. (a)  Gambar  dengan  batang lintasan vertical pada dasar putih. (b)  Informasi  sebaliknya  dengan  batang  putih  pada  dasar hitam.

Kedua contoh yang diperhatikan pada Gambar 7.8 melukiskan bagaimana sinyal video komposit bersesuaian dengan informasi visual. Pada Gambar 7.8a, sinyal video  bersesuaian  dengan  satu garis pemayaran untuk suatu bayangan (citra atau image) dengan sebuah batang vertical hitam dibawah pertengahan sebuah kerangka putih. Pada Gambar 7.8b, nilai hitam dan putih didalam gambar di balik dari yang Gambar 7.8a. sinyal sinyal ini diperlihatkan bersama polaritas penyelarasannya yang positif, tetapi ide yang sama berlaku dengan polaritas penyelarasan yang negatif.

Disebelah kiri pada Gambar 7.8a, sinyal kamera yang diperoleh melalui pemayaran yang aktif dari bayagan mula mula adalah pada level putih, sesuai dengan latar  belakang  putih. Berkas pemayaran meneruskan gerak majunya melintas latar belakang putih dari kerangka, dan sinyalnya berlanjut pada level putih yang sama sampai dia mencapai tengah tengah gambar. Pada waktu batang hitam dipayar, sinyal video berubah ke level hitam dan  tetap  disana  sementara keseluruhan lebar batang hitam dipayar. Kemudian amplitude sinyal berubah ke level putih, sesuai dengan latar belakang putih dan terus pada level tersebut sementara gerak pamayaranmajumenujusisi  kanan dari  bayangan  diselesaikan.

Pada akhir penjajakan yang dapat terlihat, pulsa pengosongan horizontal membawa amplitude sinyal video ke level hitam untuk memulai pengulangan jejak. Setelah pengulangan jejak, gerak pemayaran maju dimulai lagi pada garis horizontal  berikutnya.  Masing  masing garis horizontal yang berturutan dalam medan genap dan ganjil dipayar dalam cara ini. Sebagai akibatnya, sinyal video komposit yang sesuai  untuk  keseluruhan  ganbar  mengandung  suatu urutan sinyal dengan suatu bentuk gelombang yang identik dengan yang diperlihatkan pada Gambar 7.8a untuk masing masing garis pemayaran horizontal yang aktif.

Untuk bayangan pada gamabr 7.8b. idenya adalah sama, tetap sinyal kamera bersesuaian dengan sebuah batang vertical putih dibawahtengah tengah dari sebuah kerangka hitam. Sinyal ini mulai dan berakhir pada level hitam dan berada pada level putih di tengah –tengah.

Ini semuanya adalah tipe bayangan (image) yang sederhana, tetapi kolerasinya  dapat diperluas ke bayangan yang memiliki sebarang distribusi cahaya dan naungan. Jika polanya mengandung lima batang hitam vertical terhadap suatu latar  belakng  putih, sinyal  video komposit  pada masing masing garis horizontal akan mencakup lima variasi yang cepat dalam amplitude dari  putih ke hitam.

Sebagai contoh lainnya, misalnya polanya terdiri atas sebuah batang hitam horizontal melintang tengah tengah sebuah kerangka putih. Maka, kebanyakan garis  garis horizontal akan mengandung informasi gambar  putih selama  keseluruhan periode pengulangan jejak. Amplitudo sinyal kamera akan tetap pada level putih kecuali selama interval pengosongan. Akan tetapi, untuk garis garis horizontal yang memayar  batang hitam, sinyal kamera dihasilkan pada level hitam.

 

TEGANGAN   KHAS   SINYAL VIDEO.

Sebuah gambar yang actual yang terdiri atas elemen elemen yang memiliki jumlah cahaya dan naungan yang berbeda dengan distribusi yang tidak seragam dalam garis garis horizontal dan melalui medan –medan vertical. Bila didalam adegan terdapat gerakan, sinyal video mengandung suatu urutan dari tegangan tegangan yang berubah secara kontinu. Didalam masing masing garis, amplitude sinyal kamera berubah ubah untuk elemen gambar yang berbeda. Selain itu, bentuk bentuk gelombang dari sinyal kamera untuk garis –garis akan berubah didalam medan.

Bentuk bentuk gelombang yang dihasilkan diperlihatkan oleh gambar gambar osiloskop dari suatu sinyal video khas pada Gambar 7.9. Sinyal ini adalah untuk kisi pengatur dari tabung gambar. Dia mempunyai amplitude sebesar 100 Volt puncak ke puncak dan polaritas penyelarasan yang negatif.

 


Gambar 7.9. Gambar gambar osiloskop sinyal video komposit, yang diperlihatkan dengan penyelarasan yang turun pada polaritas yang negatif. (a) dua garis horizontal dengan onformasi gambaran antara pulsa pulsa pengosongan H. penyapuan bagian dalam osiloskop pada 15.750/2 = 7,875   Hertz. (b) dua medan informasi gambar vertikal antara   pulsa pulsa  pengosongan

V. penyapuan bagian dalam osiloskop pada 60/2=30 Hertz.

 

7.6 BENTUK GELOMBANG DI OSILOSKOP

Apabila anda melihat pola-pola osiloskop biasanya variasi sinyal tidak jelas karena mereka berubah  ubah terhadap gerakan  dalam adegan.  Akan  tetapi  jejak osiloskop  akan mengunci untuk pengosongan H dan pulsa-pulsa penyelarasan pada laju kecepatan yang mantap sebesar 15.750 Hertz  atau pada pulsa-pulsa Vpada 60  Hertz. Lebih disukai jika frekuensi penyapuan horizontal bagian dalam dari osiloskop disetel pada setengah frekuensi ini, untuk memperlihatkan suatu sinyal video untuk dua garis, seperti pada Gambar 7.9a, ataupun untuk dua medan seperti ppada Gambar 7.9b. Maka masing-masing siklus diperlihatkan sebesar  mungkin  dan  dengan keseimbangan  selama  waktu pengosongan.

 

LAJU GARIS (LINE RATE) .

Bila penyapuan osiloskop disetel  pada  15.750/2 = 7872  Hertz,  anda akan melihat dua garis H dari sinyal video (Gambar 7.9a). Jika adegan memperlihatkan orang berjalan melintasi ruangan, sebagai suatu contoh dari gerak horisontal, variasi sinyal kamera bergerak horisontal, variasi sinyal kamera bergerakmelintas layar osiloskop diantara pulsa H.

 

LAJU MEDAN (FIELD RATE) .

Bila penyapuan osiloskop adalah 60/2 = 30 Hertz, anda melihat dua medan sinyal video (Gambar 7.9b). Gerak vertikal yang manapun dalam adegan terlihat sebagai gerakan dalam variasi sinyal kamera melintasi jejak antar pulsa-pulsa penyelarasan. Garis-garis yang bertambah panjang melintasi puncak dan dasar penyelarasan vertikal dalam pola osiloskop disebabkan oleh penyelarasan horisontal.

Anda tidak melihat pulsa-pulsa penyamaan dalam pola  ini  sebab osiloskop  dikunci  pada frekuensi pemayaran vertikal. Untuk melihat pulsa-pulsa pemayaran  dan  gerigi-gerigi  dalam pulsa  vertikal,  anda  harus  menyetel  frekuensi  penyapuan  bagian  dalam dari osiloskompada

31.500 Hz atau ke suatu perkalian tambahan. Biasanya, penyapuan horisontal dari osiloskop juga harus diperluas.

 

BENTUK  GELOMBANG  OSILOSKOP  DAN INFORMASI  GAMBAR.  

Lihat  Gambar 7.10.



Citra (image) pada Gambar 7.10a dengan batang batan horisontal dan vertikal, disebut pola garis silang(crosshatch pattern). Jenis citra ini menghasilkan variasi-variasi sinyal kamera yang serupa untuk pemayaran horisontal dan juag vertikal. Akan tetapi, penerapan utama dari pola garis silangadalah untuk memeriksakelinieran pemayaran  horisontal  dan vertikal  untuk penjarakan yang sama dari batang-batang tersebut. Pola garis silang juga digunakan jika dilakukan penyesuaian konvergensi  pada  tabung-tabung gambar  berwarna..



Pada Gambar 7.10b. Bentuk gelombang osiloskop memperlihatkan dua garis H dari sinyal kamera sebab frekuensi penyapuan bagisn dalam adalah 8775 Hz. Variasi-variasi ini sesuai dengan batang-batang vertikal dalam gambar.

Pada Gambar 7.10c, bentuk gelombang osiloskop memperlihatkan dua medan vertikal sebab

 


 Gamabar 7-10. Bagaimana bentuk-bentuk gemlombang sinyala video berhubungan dengan informasi gambar. (a) Pola garis silang pada layar tabung gambar. (b)  Informasi  gambar  horisontal dengan  pulsa-pulsa  penyelarasan V.

Frekuensi penyapuan bagian dalam adalah 30Hz. Variasi-variasi sinyal kamera ini sesuai dengan batang-batang horisontal  pada  gambar.

Pada kebanyakan osiloskop, posisi 30 dan 7875 Hz ditandai sakelar frekuensi penyapuan bagian dalam sebagai V dan H untuk televisi. Ini membuatnya  mudah  untuk berpindah diantara sinyal video untuk dua garis pemayaran Hdan untuk dua medan  pemayaran V.

 

7.7. INFORMASI GAMBAR DAN FREKUENSI SINYAL VIDEO

Frekuensi frkeuensi sinyal kamera bervariasi dari sekitar 30 hz sampai 4 MHz. perhatikan bahawa 30Hz pada ujung rendah. Merupakan frekuensi audio, dan 4 Mhz pada ujung yang tinggi sebenarnya adalah suatu frekuensi radio. Rentang frekuensi berlebar ini membuat sinyal video suatu sinyal berlebar bidang lebar. Dia menjangkau suatu ragkuman sebesar kira- kira 17 oktaf.

Sinyal kamera mempunyai perubahan- perubahan yang sangat cepat dalam sebuah garis sebab pemayaran horisontal adalah cepat. Secara khusus, suatu sinyal 4 MHz menyatakan suaru perubahan dalam amplitude antara dua elemen gambar yang berturut-turut yang membutuhkan 0.25 micro second dalam pemayaran horizontal. Perhatikan bahwa batas 4 Mhz hanyalah pembatasan legal yang ditentukan olehsaluran 6 Mhz dari stasion pemancar  televisi.

Dalam pemayaran vertical, variasi- variasi sinyal kamera mempunyai frekuensi-frekuensi yang jauh lebih renadah karena kecepatan pemayaran lebih  lambat.  Suatu sinyal  30Hz menyataan suatu perubahan amplitude antara dua medan berurutan yang berulang  pada laju 60 Hz. Frekuensi-frekuensi yang lebih rendah daripada 30 Hz dapat dipandang sebagai suaru perubahan dalam level arus searah  (DC).

 

FREKUENSI  VIDEO YANG TERCAKUP DALAM PEMAYATAN  HORISONTAL. 

Pada pola  papan    peraga  dalam   gambar  7.11.   sinyal  gelombang    persegi   di puncak menyatakan  variasi variasi.



Sinyal kamera dari sinyal video komposit yang diperoleh  dalam  pemayaran  satu  garis horizontal. Adalah diinginkan untuk mendapatkan  frekuensi  dari gelombang  persegi  ini. Frekuensi variasi sinyal kamera sangat penting dalam menetukan apakah sitem telvisi dapat memancarkan dan menghasilkan kembali informasi gambar yang sesuai.

Untuk menentukan frekuensi dari sebarang variasi sinyal, waktu  untuk  satu siklus  lengkap harus diketahui. Suatu siklus termasuk waktu dari satu titik pada  bentuk  gelombang  sinyal ke titik berutrutan berikutmya yang memiliki besaran dan arah yang sama. Maka frekuensi adalah kebalikan dari periode. Sebgai contoh, periode unutk pemayaran satu  garis  garis  horizontal adalah 1/15.750 dtik dan berarti frekuendsi pemayaran garis adalah 15.750 Hz. Akan tetapi variasi sinyal kamera dalam satu garis horizontal perlu memiliki suatu periode yang lebih pendek dan frekuensi  yang lebih tinggi.

Perhatikan bahwa satu siklus lengkap dari sinyal  kamera pada Gambar 7.11 mencakup informasi dalam dua elemen gambar yang berdekatan, astu putih yang lain hitam. Hanya setelah memayar segi empat yang kedua sinyal kamera berul-betul memiliki besar dan arah yang sama seperti pada mulainya segi empat pertama. Jadi, untuk mendpaatkan frekuensi variasi sinyal kamera, kita harus mendapatkan berapa lama di butuhkan untuk memayar dua persegi yang berurutan. Waktu  adalah periode untuk satu siklus dari sinyal kamera resultante.

Sekarang kirta dapat menghitung periode satu siklus lengkap dari variasi sinyal kamera gelombang persegi pada Gambar 7.11. Periode untuk pemayaran garis horizontal adalah 1/15.750  atau 63.5 mikro detik termasuk penjejakan dan pengulangan jejak (retrace). Dengan mengetahui waktu pengosongan  horizontal  sebesar 10.2 udet, waktu yang tertinggal untuk penjejakan visible adalah 53.3 mikro detik. ini adalah waktu yang diperlukan untuk memayar semua elemen   gambar   dalam  sebuah   garis.

Ke 12 segi empat dalam satu garis dipayar dalam 53.3 mikro detik. waktu T yang  lebih kecil diperlukan  untuk  memayar  dua  persegi  yakni   2/12  atau   1/6,      sebesar   53.3   mikro detik.

jadi ,

T=1/6 x53.3 mikro detik = 8.8 mikro detik

Periode  untuk  satu  siklus lengkap  dari sinyal gelombang  adalah T, dan  frekuensi   f= 1/T

f=1/T = 1/8.8 mikro detik = 0.11 Mhz

 Pada Gambar 7.11 frekuensi variasi sinyal kamera gelombang persgi yang diperlihatkan pada puncak pila papan pemeriksa adalah 0.11 Mhz.

 INFORMASI   GAMBAR   YANG   KHAS.

Bila suatu gambar khas dipayar, bidang cahaya dan naungan yang tepnecar tidak menghasilkan suatu sinyal gelombang persegi yang simetri. Akan tetapi, beda cahaya dan naungan bersesuaian dengan perubahan perubahan dalma amplitude sinyal kamera. Frekuensi variasi sinyal kamera resultante selalu terganutng pada waktu yang diperluakn utnuk memayar bidang-bidang yang bedekatan dengannilai cahaya yang berbeda.

Bila sasaran- sasran yang besar dengan suatu level putih, kelabu dan hitam yang konstan dipayar, variasi sinytal kamera yang berseusaian memilik frekuensi frekuensi yang rendah. Alasannya adalha waktu yang etermasuk laam, antar perubahan –perubhan dalma amplutudo.

Bidang cahaya dan naugnan yang lebih kecil did alma bayangan dipatar pada freekuensi- frekuensi videio yang lebih tinggi. Frekuensi-frekuensi sinyal  tertinggi  sesuai  dengan  variasi antara elemen- elemen gmabar yang sangat kecil didalam sebuah garis horizontal, terutama pinggiran vertical antara suaru bidang purih dan bidang  hitam.

 

FREKUENSI      FREKUENSI    VIDEO   YANG   BERGABUNG   DENGAN   PEMAYARAN  VERTIKAL.

Pada  ekstrem yang berlawanan , variasi-variasi sinyal yang sesuai dengan elmenen- elemen gambar yang berdekatan dalam arah verikal  memiliki frekuensi  frkuensi  rendah disebabkan laju pemayaran vertical adalah termasuk lambat. Variasi variasi antara satu garis dan yang berikutnya sesuai dengan frekuensi sebesar mendekati 110  KHz.  Perubahan  perubahan yang lebih lambat melalui jarak yang lebih  besar  dalam  pemayaran  vertical  terjadi pada frekuensi –frekuensi yang lebih renadah berseusain dengn srua variasi dalam leve chaaya antara dua medan beururtan .

 

FREKUENSI  -  FREKUENSI      VIDEO     DAN     IFORMASI      GAMBAR.      

Lihat Gambar     7-12 yang memperlihatkan besarnya informasi gambar berhubungan dengan frekuensi –frekuensi  video. Badan  utama dari bayangan pada Gambar 7.12a.  diperlihatkan pada Gambar 7.12b. hanya dengan bidang-bidang putih dan hitam yang besar. Frekuensi –frekuensi video  ini  meluas  sampai 100 kHz. Akan tetapi rincian dengan pinggiran –pinggrian tajam dan garis garis besar diisi oleh frekuensi- frekuensi video yang tinggi dari 0.1 sampai 4 Mhz seperti dieprlihatkan pada Gambar 7.12c. perhatikan bahwa tirai bangunan direproduksi pada Gambar 7.12b, tetapi strip- strip dan  huruf kecil  memerlukan  reproduksi  frekuensi  tinggi  pada  Gambar 7.12c.

Suatu penerapan yang praktis dan menarik adalah bahwa  jauh lebih mudah  untuk memperoleh suatu gambar yang tajam dalam pandangan bayangann yang sangat dekat daripada dengan pandangan pengambilan panjang. Suatu  contoh adalah suatu pengambilan  dekat  (close  up ) yang hanya memperlihatkan muka manusia. Walaupun demikian, masing-masing  rambut dalam alis mata tidak terlalu kecil, relatif terhadap lebar gambar . maka informasi gambar  ini tidak memerlukan  suatu frekuensi terlalu tinggi dan berarti reproduksi dapat menjadi tajam dan jelas. Dalam suatu penglihatan pengambilan jauh, rincian adengan yang sengat kecil terlalu kecil untuk di reproduksi.


Juga dalam televisi berwarna, pemandangan –pemandangan pengambilan dekat dan latar belakang kelihatan bagus sebaba frekuensi-frekuensi video dari informasi gambar yang relative rendah, di bandingkan dengan yang pada pandangan pengambilan panjang. Secara khusus dalam kebanyakan penerima, informasi gambar  yang termasuk dalam gambar  televisi hanyalah untuk frekuensi-frekuensi video sampai  mendekati 0.5 Mhz.

 

7.8.  JUMLAH    MAKSIMUM   ELEMEN  GAMBAR.

Jika kita tinjau sebuah pola papan-pemeriksa (cheker board) seperti pada Gambar 7.11. dengan segi empat yang lebih banyak lagi, jumlah maksimum elemen gambar dapat dihitung dengan memisalkan masing-masing persegi menjadi satu elemen. Maka  jumlah elemen  total di dalam daerah sama dengan rincian-rincian maksimum didalam garis secara horizontal dikalikan dengan rincian dalam suatu baris vertikal. Akan tetapi rincian horisontal dan vertikal harus di tinjau secara terpisah didalam suatu gambar televisi sebab proses pemayaran. Untuk rincian horisontal masalahnya terletak pada berapa banyak elemen yang sesuai dengan batas frekuensi tinggi dari sinyal  video 4 Mhz.  Rincian vertikal  mencakup pertanyaan berapa banyak elemen dapat dipisahkan  oeh  garis-garis  pemayaran.

 

RINCIAN   HORISONTAL   MAKSIMUM.

Bekerja dengan cara yang sama seperti pada bagian sebelumnya, kita dapat memperoleh jumlah elemen yang sesuai dengan 4 Mhz, guna memperlihatkan  jumlah  maksimum  elemen gambar dalam sebuah garis  horisontal  dan besar  rincian horisontal terkecil yang mungkin. Periode satu siklus lengkap untuk satu variasi sinyal 4 Mhz adalah 1 / (4X106) detik = 0,25 mikro detik. Ini adalah waktu yang diperlukan untuk memayar  dua elemen gambar  yang berdekatan. Karena dua elemen dapat dipayar dalam 0,25 µdet, delapan  elemen dapat dipayar dalam 1 mikro detik. Akhirnya, 8 X 53,3= 426 elemen gambar dapat  dipayar selama keseluruhan  periode  garis aktif sebesar 53,3 mikro detik. Seandainya  ada 426 persegi dalam arah horisontal dalam pola papan-pemeriksa  pada Gambar 7.11, maka variasi sinyal kamera resultante akan menghasilkan suatu sinyal 4Mhz.

 


Gambar 7.12.  Efek frekuensi video terhadap reproduksi gambar. (a) Gambar  yang normal. (b) Yang direproduksi hanya daerah yang besar  dalam gambar  dengan  frekuensi-frekuensi  video rendah sampai 0,1 MHz. (c) Yang direproduksi hanya bagian-bagian yang penting dengan frekuensi-frekuensi  video tinggi  antara 0,1 dan 4 MHz.

 

RASIO  PEMANFAATAN   DAN  RINCIAN  VERTIKAL. 

Setiap  garis  pemayaran dapat mewakili paling banyak hanya satu rincian dalam defleksi vertikal.  Akan tetapi,  sebuah garis pemayaran dapat menyatakan tidak ada rincian vertikal sama sekali dengan menghilangkan suatu rincian vertikal secara sempurna. Juga, dua garis dapat mengangkangi satu elemen gambar. Maka, masalah dalam menetapkan rincian vertikal yang bermanfaat adalah dalam menentukan berapa banyak elemen gambar yang dapat dihasilkan kembali, dengan jumlah garis pemayaran yang diketahui.

Jumlah garis-garis pemayaran yang bermanfaat dalam menyatakan rincian vertikal dibagi dengan jumlah total garis-garis pemayaran visibel adalah perbandingan pemanfaatan (utilitation ratio). Perhitungan-perhitungan teoritis dan pengujian-pengujian eksperimental memperlihatkan bahwa rangkuman perbandingan pemanfaatan adalah dari 0,6 sampai 0,8 untuk bayangan- bayangan yang berbeda dengan kandungan gambar yang khas. Sebagai rata-rata kita dapat menggunakan  0,7.

Sekarang jumlah maksimum elemen gambar vertikal yang mungkin dapat  ditentukan. Jumlah garis-garis visibel adalah 525 dikurangi yang  dipayar  selama  pengosongan  vertikal. Dengan suatu waktu pengosongan vertikal sebesar 8 persen, jumlah garis yang dikosongkan pada keseluruhan kerangka  adalah  0,06 X 525, atau secara pendekatan adalah 42 garis. Sebagian dari garis-garis ini terjadi selama pengulangan jejak vertikal, dan yang lain dipayar pada puncak atau dasar kerangka, tetapi semuanya dikosongkan. Jadi yang tinggal adalah 525 42 = 483 garis visibel. Dengan suatu perbandingan pemanfaatan sebesar 0,7, jumlah garis yang bermanfaat dalam memperlihatkanrincian vertikal  adalah  :

483   X  0,7 =   338  garis.

Harga ini menyatakan jumlah garis-garis pemayaran efektif.

Oleh karena itu, jumlah maksimum rincian vertikal yang dapat dihasilkan kembali bersama 483 garis pemayaran visibel adalah sekitar 338, yang harga  persisnya  tergantung pada rasio pemanfaatan.

 

JUMLAH   TOTAL   ELEMEN  GAMBAR.

Pada  dasar perhitungan-perhitungan terdahulu, jumlah maksimum elemen gambar  yang mungkin  untuk keseluruhan  bayangan  adaah 426 X338 atau sekitar  144.000.  jumlah ini tidak tergantung pada ukuran gambar.

Sebuah kerangka tunggal dari film gambar bergerak 35 mm memiliki sekitar 500.000 elemen gambar. Kerangka 16 mm yang lebih kecil mengandung sebanyak seperempat  atau  sekitar 125.000. jadi reproduksi yang ditelevisikan dapat memiliki sejumlah rincian yang hampir sama sebagaimana   terlihat   pada  gambar-gambar  bergerak 16  mm.

7.8.     KOMPONEN   ARUS   SEARAH  SINYAL  VIDEO

Disamping variasi amplitudo yang kontinu untuk masing-masing elemen gambar,  nilai rata-rata dari sinyal video harus sesuai dengan terang rata-rata dalam adegan.  Jika  tidak,  penerima tidak dapat  mengikuti perubahan dalam  terang.  Sebagai  contoh  pentingnya  level  terang, sinyal kamera bolak-balik pada suatu elemen gambar yang kelabu pada suatu latar belakang yang hitam adalah sama seperti sinyal untuk putih pada latar belakang kelabu; dengan anggapan bahwa tidak ada informasi terang rata-rata untuk menunjukkan perubahan dalam latar belakang.

Level rata-rata dari suatu sinyal adalah rata-rata aritmatika dari semua nilai-nilai sesaat yang diukur dari sumbu nol. Pada Gambar 7.13a, level rata-rata lebih tinggi dari pada Gambar 7. 13b sebab variasi sinyal kamera memiliki amplitudo-amplitudo  yang  lebih  tinggi.  Sekarang adalah penting untuk mengingat bahwa  nilai rata-rata dari sebarang variasi sinyal  untuk suatu siklus yang lengkap adalah komponen  arus searahnya. Dengan demikian, komponen arus arus searah pada Gambar 7.13a. lebih dekat ke level hitam dari pada yang pada Gambar 7.13b. Walaupun dia dilukiskan disini untuk satu garis pemayaran  komponen searah yang diperlukan dari  sinyal video adalah  nilai rata-ratanya untuk kerangka-kerangka lengkap, karena  informasi  latar  belakang  dari kerangka  menunjukkan  terang  adegan.

Jika nilai rata-rata atau komponen arus searah dari sinyal video adalah dekat ke level  hitam seperti pada Gambar 7.13a, terang rata-rata adalah gelap. Variasi-variasi sinyal arus bolak balik yang sama pada Gambar 7.13b. memiliki  suatu latar  belakang  yang lebih terang  sebab sumbuer arus  searah (dc) adalah  lebih  jauh  dari level hitam.

Jarak antara sumbu  rata-rata dan level pengosongan disebut tinggi tumpuan  (pedestal height) dari sinyal video, seperti diperlihatkan pada Gambar 7.13b. Sinyal untuk suatu adegan cahaya memiliki tinggi tumpuan yang lebih besar daripada yang untuk adegan gelap.


Gambar 7.13.  Sinyal-sinyal video dengan variasi arus bolak-balik yang sama tetapi berbeda dalam level tentang rata-rata. Yang dilukiskan hanya satu garis dari sebuah kerangka lengkap. (a) adegan gelap dengan  nilai rata-rata yang mendekali level  hitam. (b) Adegan terang dengan nilai rata-rata yang  jauh dari level hitam.

Perhatikan bahwa  suatu level arus searah  yang  tidak tepat  menghasilkan terang yang salah. Efek ini dilukiskan pada Gambar 7.14. Tanpa komponen  arus  searah,  informasi  gambar disini terlalu gelap. Gambar ini memerlukan tumpuan yang lebih  tinggi disebabkan  latar  belakang yang putih. Sinyal yang ditransmisikan  memiliki level arus searah yang tepat, tetapi dia dapat hilang melalui penggandengan kapasitif dalam penguat video.

 


Gambar 7.14. Efek terang yang tidak tepat tanpa komponen searah yang diperlukan. Informasi gambar terlalu gelap sebab latar belakangnya yang putih.

Dalam televisi monokrom, komponen arus searah yang salah hanya menyebabkan terang yang tidak tepat. Akan tetapi dalam televisi berwarna, diperlukan komponen  arus searah guna menghasilkan  kembali  warna-warna yang tepat.

 

7-9  GAMMA  DAN  KONTRAS    DALAM  GAMBAR

Gamma  adalah suatu faktor numerik yang digunakan dalam televisi dan reproduksi film untuk menunjukkan  bagaimana   nilai-nilai cahaya dikembangkan atau ditekan. Hubungkan ke Gambar 7.15. Eksponen persamaan-persamaan untuk kurva-kurva yang di perlihatkan disebut Gamma (¥). Nilai  numerik gamma  sama dengan kemiringan bagian garis lurus dari  kurva dimana dia naik tajam. Sebuah kurva dengan gamma  yang kurang dari 1 dibelokkan arah ke bawah seperti pada Gambar 7.15a, dengan  kemiringan  terbesar  terjadi pada  start; dan  bagian  yang   relatif datar terjadi di ujung. Bila gamma lebih besar daripada 1, kurva dibelokan   kearah ke atas seperti pada Gambar 7.15b, dan   kemiringan  pada  awal  adalah  termasuk datar sedangkan pada ujungnya adalah tajam. Dengan gamma sebesar 1, hasilnya adalah garis lurus seperti pada Gambar 7.15c, dan  kemiringannya adalah   konstan.

Suatu gamma sebesar 1 menyiratkan suatu karakteristik yang linier, yakni  tidak ada nilai cahaya berlebih. Bila gamma lebih besar daripada 1 untuk bagian putih bayangan, gambar yang dihasilkan kembali kelihatan secara kontras sebab pertambahan dalamlevel putih diperbesar oleh kemiringan yang tajam, dengan menekankan bagian-bagian putih dari gambar. Gambar hidup komersial yang diperlihatkan dalam gedung pertunjukan yang digelapkan memiliki penampilan kontras yang tinggi ini. Nilai-nilai gamma yang lebih kecil daripada 1 untuk bagian-bagian putih dari bayangan menekan perubahan dalam level  putih untuk membuat  gambar  kelihatan lebih halus, dengan gradiasi dalam level kelabu lebih jelas.

Untuk setiap komponen dalam sistem televisi dapat ditetapkan suatu sinyal gamma untuk menguraikan bentuk kurva  responsnya  dan  karakteristik-karakteristik  yang  kontras.  Sebagai suatu contoh khas, tabung-tabung gambar  memiliki  kurva  karakteristik kontrol yang dilukiskan pada Gambar 7.15b. Tegangan sinyal video selalu pada kisi pengatur dari tabung gambar dengan polaritas yang diperlukan untuk membuat variasi-variasi sinyal pada bagian putih dari gambar jatuh pada bagian dari kurva  respons dengan  kemiringan yang curam. Sebagai  akibatnya, suatu variasi amplitudo sinyal video pada level putih menghasikan suatu perubahan yang lebih besar dalam arus berkas dan terang layar yang lebih gelap. Tabung-tabung gambar menekankan bagian putih dari gambar; berarti dengan nilai khas gamma sebesar 2,2 sampai 3,5. Film komersial juga memiliki suatu gamma yang lebih besar daripada 1, dengan  nilai rata-rata adalah 1,5.

Penguat-penguat yang menggunakan operasi linear memiliki suatu gamma yang sangat mendekati satuan. Respons garis lurus memperlihatkan bahwa tegangan  sinyal  keluaran sebanding dengan tegangan sinyal masukan, yakni tidak ada level sinyal  yang  ditekan.  Akan tetapi jika diinginkan, sebuah penguat dapat dibuat beroperasi diatas bagian yang lengkung dari kurva karakteristik alihnya dengan menggeser bias kerja. Penguat yang tidak linear dapat digunakan sebagai suatu tingkatan pengontrol gamma. Suatu nilai gamma sebesar 0,4545 mengimbangi  2,22 guna memberikan gamma  keseluruhan sebesar  1.

 


 Gambar 7.15. Karakteristik gamma, (a) respons mata yang dapat dilihat; gamma lebih kecil daripada 1. (b) Karakteristik kisi-pengatur dari tabung  gamma  sama dengan 2,2. (c) Karateristik linear dari      sebuah  penguat;   gamma    sama   dengan    1.

 

MODULATOR SINYAL VIDEO WARNA

  MODULATOR SINYAL VIDEO WARNA   Gambar-9: Spektrum-video yang ditempati pemancar-TV hitam-putih. Informasi-warna terselinap di dalam sinyal...